Surga yang Tak Dirindukan

Judul: Surga yang Tak Dirindukan
Penulis: Asma Nadia
Tahun Terbit: 1 Januari 2007
Genre: Novel, Fiksi

Sinopsis

“Surga yang Tak Dirindukan” karya Asma Nadia adalah sebuah karya sastra yang merangkai perasaan, pertanyaan, dan dilema dalam konteks rumah tangga dan cinta. Novel ini mengajukan pertanyaan yang mendalam: Apakah rumah masih bisa menjadi tempat yang nyaman bagi suami? Apa arti surga jika kerinduan telah pudar? Apakah kebahagiaan satu wanita harus berakhir agar kebahagiaan wanita lain dapat dimulai? Pertanyaan ini menjadi latar belakang kisah yang penuh emosi dan konflik.

Review

Buku ini menghadirkan Arini, seorang perempuan yang merasa dilematis ketika suaminya, Pras, menjadi tertarik pada wanita lain, Meirose. Arini merasa tidak bisa memberikan apa yang Meirose bisa berikan pada Pras. Dalam konteks ini, Asma Nadia dengan tajam membahas realitas poligami dan implikasinya terhadap perasaan dan kehidupan perempuan.

Namun, dalam narasinya terdapat beberapa aspek yang dapat ditingkatkan. Awal cerita terkadang terasa sedikit kacau, di mana perubahan waktu tidak selalu diberi penanda yang jelas, seperti spasi antarbaris atau frase penghubung kalimat. Ini bisa membingungkan pembaca dan mengganggu kelancaran alur.

Novel ini memberikan perspektif baru dalam mengangkat tema poligami. Sementara banyak karya sastra yang memandang poligami dari sudut pandang laki-laki, novel ini mengambil pandangan yang lebih kuat dari sisi perempuan. Penggambaran yang realistis dan kompleks mengenai perasaan Arini membuat kita ikut merasakan pertempurannya.

Asma Nadia juga menunjukkan keterampilannya dalam menggambarkan karakter dengan beragam emosi. Protagonis dan antagonis dalam novel ini tidak hanya hitam dan putih. Misalnya, Meirose yang pada awalnya dapat memicu kebencian dan kasihan secara bersamaan. Ini menambah dimensi karakter yang mendalam.

Kutipan “Jika cinta bisa membuat wanita setia pada satu pria, mengapa cinta tidak cukup untuk membuat seorang pria bertahan dengan satu wanita?” menjadi refleksi penting tentang perasaan dan ekspektasi dalam hubungan. Kutipan ini secara ringkas menggambarkan kompleksitas emosi yang dihadapi karakter-karakter dalam novel ini.

Dalam karyanya, Asma Nadia berhasil menggabungkan elemen fiksi dengan pemikiran yang lebih mendalam. Keberagaman tema seperti sejarah, ideologi, dan ras mengisi halaman-halaman novel ini. Namun, terkadang alur cerita terasa seperti teka-teki yang belum terpecahkan, di mana beberapa tokoh dan alur terasa tidak memiliki hubungan yang jelas.

Menariknya, novel ini juga mengeksplorasi bagaimana penulis perempuan seperti Asma Nadia merefleksikan pandangan mereka terhadap seksualitas perempuan dan bagaimana mereka “melawan” konstruksi budaya yang ada. Hal ini memberikan dimensi analitis yang lebih dalam dalam membaca karya ini.

Dalam “Surga yang Tak Dirindukan,” Asma Nadia membawa pembaca pada perjalanan emosional yang membingkai konflik rumah tangga dan cinta yang rumit. Kritik positif terhadap novel ini adalah adanya kebingungan dalam peralihan waktu dan keterkaitan antar alur. Dengan mengembangkan struktur narasi dan alur yang lebih padu, buku ini dapat menjadi karya yang lebih kuat dalam menggambarkan kompleksitas perasaan dan realitas kehidupan perempuan. Bagi yang ingin lebih memahami cerita ini, Anda juga bisa nonton film adaptasi “Surga yang Tak Dirindukan 3” di sini.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published