Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa

Judul: Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa
Penulis: Patresia Kirnandita
Tahun Terbit: 1 Januari 2021
Genre: Non-fiksi, Self-Help, Psikologi

Sinopsis

Sejauh ini, tanda-tanya hanya bisa saya duga. Mama mungkin tengah berjuang dalam gelombang masalah jiwa, atau ia mungkin dalam kebisuan yang dalam, terkoyak oleh beban berat yang tak terlihat. Kemungkinan ia merasa jemu, lesu, atau bahkan sakit, dan semua itu diungkapkan dalam ledakan amarah yang meresahkan hatiku. Ada juga peluang bahwa ia merindukan kehangatan anaknya, tetapi tak mampu menemukan cara untuk menggapainya.

Review

Membahas dari sudut pandang, buku ini merangkai benang merah dari luka batin yang tak pernah aku sadari, karena rasa syukurku memudar dan kecolongan rasa bersalah atas perasaan ini. Aku merasa berhutang budi atas tempat perlindungan dan rezeki yang diberikan orang tuaku, namun ironisnya, cara mereka membesarkanku tanpa kematangan dan dukungan emosional (meski aku tahu itu bukanlah niat mereka) meninggalkan bekas rasa sakit yang masih mengganggu. Beberapa ide mungkin terasa berlebihan (ini hanya pendapatku, bukan penilaian terhadap penulis), tetapi justru lewat ketidaksetujuan ini, mataku terbuka lebih lebar. Bacaan ini terasa seperti kombinasi resep ayam kampung dan pendekatan psikologis yang mendalam. Bukan sekadar mengupas penyakit jiwa, tapi juga menguraikan terminologi parenting.

Di tengah budaya kita yang menekankan ketaatan takwa pada orang tua, terlepas dari perlakuan mereka, suara anak jarang diberikan tempat ketika mereka mencoba berbicara. Kalimat-kalimat biasanya terpental dengan, “Sudah minta maaf ke orang tua?” Sikap orang tua terhadap anak-anak mereka saat kecil, tanpa sadar membentuk pola pikir dan keterampilan sosialnya hingga dewasa. (Ini berbeda dengan teori Adler yang baru saja saya telaah, ironisnya). Buku ini tak hanya memoar penulis sebagai survivor dari kekerasan rumah tangga, tetapi juga jendela ke dunia psikologi yang sangat terhubung. Aku merasa tak sendiri.

Aku punya masa di mana aku malas dan merasa enggan berkomunikasi dengannya. Di Indonesia, sepertinya tak lazim mengakui bahwa perlakuan orang tua dapat melukai, atau bahkan mengganggu inner child dan masa lalu yang memengaruhi hidup dewasa. Ini membawa barang bawaan masa kecil yang berdampak di tengah lautan kehidupan. Bab-babnya terbagi antara teori dan pengalaman penulis tentang pola asuh. Inilah yang membuat buku ini lebih dari sekadar catatan pribadi, mengombinasikan penjelasan yang mudah dicerna dengan cerita nyata yang meresap.

Salah satu kutipan yang mencuri hatiku, dari J.K Rowling melalui Patresia Kirnandita, “Tanggal kedaluwarsa untuk menyalahkan orang tua Anda karena mengarahkan Anda ke arah yang salah; saat Anda cukup dewasa untuk mengambil kemudi, tanggung jawab terletak pada Anda.” Dengan adanya buku ini, aku berharap para orang tua muda lebih peka terhadap pengaruh perlakuan dan pola asuh mereka terhadap anak-anak, sehingga tak ada luka yang mengakar dan trauma yang memburu di masa mendatang. Beberapa bagian akhir buku ini memberi pelajaran lebih dalam daripada awal, di mana penulis terkesan egois dan “berkelindan”, meski aku tak bisa menolak bahwa perasaan ini pernah menyapu diriku juga. Mereka, seperti kita semua, memiliki pikiran dan perasaan, dan senioritas dalam usia bukan berarti kebenaran mutlak.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published