Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Judul: Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi
Penulis: Boy Candra
Tahun Terbit: 22 November 2016
Genre: Percintaan, Novel

Sinopsis

Novel “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” karya Boy Candra ini berfokus pada Juned yang dikhianati oleh kekasihnya Elya, serta perjalanannya dalam mendaki gunung untuk melupakan rasa sakit. Juned kembali ke kehidupan normal dan bertemu dengan Nara, seorang gadis dengan teman baik Kevin yang diam-diam mencintainya. Nara punya kisah dengan Juned, tetapi akhirnya menerima perasaan Kevin setelah Juned meninggal dalam kecelakaan panjat tebing. Kevin dan Nara mulai hubungan baru.

Review

Novel “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” oleh Boy Candra mengundang perasaan campur aduk. Meskipun aku merasa senang bahwa aku tidak membeli novel ini, bukan berarti aku tidak menemukan nilai-nilai yang dapat diapresiasi dalam kisahnya. Terasa seperti kegembiraan semu, entah bagaimana, alur ceritanya kurang menarik bagi saya. Terkadang terlalu klise, sehingga kehilangan rasa orisinalitasnya, membuat banyak bagian yang kubiarkan terlewat begitu saja. Namun, ini adalah masalah selera pribadi, dan mungkin bagi pembaca yang lebih suka dengan cerita-cerita romanse yang tradisional, novel ini bisa menjadi hiburan yang memuaskan.

Salah satu aspek yang patut diapresiasi dalam novel ini adalah karakter Mamak Kevin. Mamak Kevin digambarkan dengan penuh perasaan sakit karena harus menyimpan perasaan terhadap Nara. Ini adalah salah satu aspek yang memberi lapisan emosional yang mendalam pada cerita. Namun, aku benar-benar menikmati percakapan antara Nara dan Juned, yang sering kali mengundang senyum. Salah satu kutipan yang kusukai adalah, “Berkebun pada dasarnya tentang menanam.” Ini adalah contoh bagus bagaimana penulis berhasil menyisipkan pesan-pesan bijak dalam narasi cerita. Meskipun demikian, beberapa kalimat dalam dialog terasa sangat cheesy, yang bisa mengganggu pengalaman membaca.

Penggunaan bahasa dalam novel ini terkadang sulit dimengerti. Mungkin ini karena aku bukan penggemar genre romanse, yang membuatku harus memaksakan diri untuk menyelesaikan buku ini dalam satu hari. Alangkah bagusnya jika font yang digunakan oleh penerbit lebih nyaman dibaca, agar pembaca bisa lebih fokus pada cerita tanpa harus terganggu oleh teknis cetakan.

Novel ini menyajikan tiga peringatan yang dapat diambil: pertama, belajarlah untuk ikhlas, karena kesempurnaan tak selalu datang berkali-kali; kedua, ketekunan dalam belajar ikhlas setelah berulang kali gagal; ketiga, kita harus tahu kapan bertahan dan kapan melepaskan, tanpa harus melihat ke belakang. Ini adalah pesan-pesan yang bisa menginspirasi pembaca untuk merenungkan tentang kehidupan dan cinta.

Setelah menyelesaikan bacaan ini, satu hal yang kurasakan adalah, akhir cerita pun aku akhiri. Sayangnya, penilaianku terhadap akhir cerita ini kurang positif. Meski begitu, aku senang dengan kutipan yang diselipkan di setiap bab, memberikan semacam kesan yang berbeda. Kutipan-kutipan ini memberi sentuhan khusus pada novel ini dan memperkaya pengalaman membacanya.

Gaya prosa yang digunakan dalam novel ini sangat memikat, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi situasi serupa dalam kehidupan mereka. Namun, alur ceritanya terkadang terasa sedikit kaku dan terlalu terduga. Aku tak terlalu menggemari alur cerita yang terlalu klise. Buku sebelumnya karya Boy Candra lebih mudah aku nikmati dibandingkan dengan ini.

Seperti biasanya, Boy Candra kembali menyuguhkan kisah cinta yang menarik, dilengkapi dengan bumbu puisi yang menyentuh hati. Sebaiknya, pada cetakan berikutnya, penulis, editor, dan penerbit melakukan beberapa perbaikan pada kesalahan penulisan dan mengembangkan lebih jauh karakter-karakternya. Terbuka adanya bahwa ini adalah salah satu novel yang membutuhkan konsentrasi lebih dan waktu lebih lama untuk dinikmati. Sebab, kombinasi antara kisah cinta dengan kata-kata bijak mampu menguatkan hati, terutama bagi mereka yang tengah merasakan luka.

Namun, ada beberapa kekurangan dalam penulisan novel ini. Mungkin karena penggunaan sudut pandang orang ketiga, aku merasa tidak sepenuhnya terlibat dalam gaya bercerita ini. Salah satu hal yang paling mengganggu adalah dialog antar tokoh, terasa seperti formalitas belaka, tanpa kedalaman atau chemistry antara ibu dan anak. Ini adalah aspek yang bisa ditingkatkan untuk meningkatkan daya tarik cerita.

Dalam rangka meningkatkan pengalaman pembaca, beberapa aspek teknis seperti penggunaan bahasa, alur cerita, dan pengembangan karakter bisa ditingkatkan pada cetakan selanjutnya. Novel ini mengambil latar kisah tentang hubungan sahabat yang perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar persahabatan. “Hal tersulit dalam merasakan sesuatu untuk sahabatmu adalah ketika ia menceritakan rasa cintanya pada orang lain, dan kita harus pura-pura senang.” Pesan-pesan seperti ini dapat menjadi landasan emosional yang kuat dalam novel ini jika dikelola dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” memiliki potensi besar dalam menyampaikan pesan-pesan emosional yang mendalam. Namun, diperlukan beberapa perbaikan teknis guna memperkuat cerita ini dan membuatnya lebih menarik bagi berbagai jenis pembaca. Bagi para penggemar cerita cinta yang dihiasi dengan kata-kata bijak, novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Anda dapat membaca novel “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” karya Boy Candra dalam format ebook, pdf, secara gratis dan juga membaca resensinya di FilspektiF.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published