Lord of the Flies

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Judul: Lord of the Flies
Penulis: William Golding
Tahun Terbit: 17 September 1954
Genre: Klasik, Fiksi

Sinopsis

“Lord of the Flies” adalah kisah tentang sekelompok anak laki-laki Inggris yang terdampar di sebuah pulau setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh. Mereka terpaksa hidup tanpa kehadiran orang dewasa untuk membimbing mereka. Mereka mencoba membentuk masyarakat mereka sendiri, tetapi ketertiban cepat runtuh, digantikan oleh teror, dosa, dan kejahatan. Ketika situasi semakin memburuk, harapan akan petualangan yang sebelumnya diharapkan tampak semakin jauh dari kenyataan, seperti harapan untuk diselamatkan.

Review

Buku “Lord of the Flies” menghadirkan pandangan yang menarik tentang sisi gelap manusia yang tersembunyi di balik kedok kebaikan. Kisah ini berpusat pada sekelompok anak laki-laki yang harus berjuang untuk bertahan hidup setelah terdampar di sebuah pulau terpencil. Mereka berusaha membentuk masyarakat mereka sendiri, tetapi upaya tersebut gagal dan pulau itu menjadi saksi teror, dosa, dan kejahatan yang semakin mengerikan.

William Golding, melalui novel ini, mengajukan pertanyaan tentang sifat dasar manusia. Apakah kita benar-benar baik atau justru memiliki potensi untuk menjadi kejam dan barbar di bawah tekanan dan lingkungan yang sulit? Buku ini membangkitkan pemikiran yang mendalam tentang masalah tersebut.

Dalam novel ini, terdapat beberapa simbol yang memiliki makna mendalam. Salah satunya adalah kerang, yang mewakili simbol ketertiban dan peradaban karena pemiliknya berhak berbicara di depan kelompok. Simbol lainnya adalah kacamata, yang selain membantu menciptakan api, juga mungkin melambangkan kecerdasan dan kelemahan. Selain itu, gagasan tentang monster, baik nyata maupun khayalan, menjadi aspek penting dalam cerita.

Kesalahan fatal dalam novel ini membuktikan bahwa semua hal bisa berubah secara drastis. Sekecil apapun perubahan dalam situasi mereka dapat mengubah jalannya cerita. Hal ini membuat kita merenungkan betapa rapuhnya peradaban dan ketertiban manusia dalam kondisi yang ekstrem.

Buku ini juga mengajak pembaca untuk berpikir tentang kebrutalan manusia. Golding tampaknya ingin menyampaikan bahwa orang-orang, bahkan anak-anak muda, tidak selalu sebaik yang kita harapkan. Cerita ini memperlihatkan bagaimana kebrutalan bisa muncul dalam situasi yang ekstrem dan bagaimana ketertiban sosial dapat dengan mudah runtuh.

Dengan latar belakang tahun 1954, saat perang dingin dan konflik global mendominasi, “Lord of the Flies” juga memberikan sudut pandang yang mendalam tentang kebrutalan yang dilakukan oleh negara-negara besar. Hal ini membuat buku ini relevan dan menginspirasi pemikiran kritis.

Dalam cerita ini, ada karakter yang menunjukkan keteguhan dan ketidakmampuan untuk melarikan diri dari ancaman. Karakter tersebut memimpin kelompoknya untuk membentuk suku pejuang yang ganas. Gagasan bahwa Piggy, seorang anak, menjadi tak berdaya tanpa kacamata adalah simbol kekuasaan yang membingungkan. Kacamata tersebut menjadi kunci untuk menyalakan api, yang kemudian dicuri oleh Jack untuk kepentingan pribadi.

Mungkin, akhir cerita yang penuh makna ini menyampaikan pesan bahwa dalam kondisi ekstrem, kita dapat menghadapi sisi gelap manusia yang mengerikan. “Lord of the Flies” adalah novel yang menggugah pemikiran, merangsang diskusi tentang sifat manusia, dan memberikan sudut pandang yang kuat tentang kebrutalan dan ketertiban sosial. Meskipun terkadang buku-buku klasik dianggap ketinggalan zaman, buku ini tetap relevan dan bernilai untuk dibaca oleh pembaca dari segala usia. Anda dapat membaca “Lord of the Flies” karya William Golding dalam format ebook atau PDF secara online dan gratis hanya di FilspektiF.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published