Insecurity is My Middle Name

Judul: Insecurity is My Middle Name
Penulis: Alvi Syahrin
Tahun Terbit: 1 Mei 2021
Genre: Self-Help, Non-fiksi, Psikologi

Sinopsis

“Insecurity is My Middle Name” adalah sebuah buku yang mencoba menyentuh pembaca dengan isu-isu ketidakamanan diri yang sering dihadapi. Penulis, Alvi Syahrin, membawa kita pada perjalanan pemahaman tentang mengapa orang-orang menarik memperhatikan yang tampak menarik dan bagaimana ketidakamanan dapat mempengaruhi pandangan diri kita. Buku ini juga mengajak kita untuk menemukan cara mengatasi rasa tidak aman dan mencari kenyamanan dengan diri sendiri.

Review

Buku ini dapat memberikan perasaan hangat seperti mendapat pelukan saat membacanya. Penulis dengan cepat menarik perhatian pembaca dengan gaya penulisannya yang mengalir, tanpa basa-basi dan langsung menyentuh kehidupan sehari-hari kita. Selama membaca, saya merasa tenang dan pada akhirnya, lebih menghargai diri sendiri. Alvi Syahrin berhasil menghadirkan rangkaian kata-kata yang sangat membangun dan mampu membantu saya melewati rasa tidak aman.

Buku ini terdiri dari lima bagian yang membahas berbagai aspek ketidakamanan diri, mulai dari perasaan tidak menarik secara fisik, kekhawatiran akan masa depan yang tidak pasti, perasaan tertinggal di belakang teman-teman, hingga rasa benci pada diri sendiri. Penulis dengan bijak mengajak pembaca untuk melihat ketidakamanan dari sudut pandang yang berbeda, dan menawarkan pendekatan spiritual sebagai bagian dari proses berdamai dengan ketidakamanan tersebut.

Sebagai seorang Muslim, saya merasa apresiasi pada pendekatan spiritual yang dihadirkan dalam buku ini. Namun, saya juga menyadari bahwa beberapa pembaca mungkin merasa lebih nyaman dengan pendekatan yang lebih universal. Bagi saya, buku ini memberikan nasihat dan dorongan yang sangat bermanfaat. Gaya penulisan Alvi Syahrin terasa santai, seperti sedang berbincang dengan seorang teman yang memberikan nasihat yang berharga.

Buku ini juga menyoroti pentingnya memaafkan diri sendiri, dan mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu siap untuk memberi kita maaf meskipun kita susah memaafkan diri sendiri. Pesan ini sangat menyentuh hati saya dan membuat saya lebih optimis dalam menghadapi ketidakamanan diri.

Namun, ada sedikit catatan kritis. Saya merasa buku ini mungkin lebih cocok untuk pembaca usia 20-an atau mereka yang menghadapi masa peralihan menuju dewasa, terutama bagi pembaca Muslim yang ingin menggali aspek spiritual dari masalah ketidakamanan diri. Bagi pembaca dari berbagai latar belakang keyakinan, beberapa bagian buku mungkin terasa kurang inklusif.

Secara keseluruhan, “Insecurity is My Middle Name” adalah buku self-healing yang menarik dan membantu pembaca untuk berdamai dengan ketidakamanan diri. Gaya penulisannya yang menyentuh hati akan membuat pembaca merasa terhubung dengan perasaan yang diungkapkan. Dengan menyajikan perspektif baru tentang ketidakamanan, buku ini mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita sendiri dan bagaimana menghadapinya. Saya merekomendasikan buku ini bagi siapa pun yang ingin mengatasi rasa tidak aman dan lebih mencintai diri sendiri.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published