I Hate Diet

Judul: I Hate Diet
Penulis: Yulia Baltschun
Tahun Terbit: 1 Juli 2020
Genre: Diet, Kesehatan, Non-fiksi

Sinopsis

Buku ini menghadirkan pandangan baru yang meremajakan pandangan kita terhadap diet dan tubuh, mengatasi asumsi negatif yang sering kali menjadi akar masalah utama.

Review

Saya pertama kali mengetahui buku ini melalui percakapan di dunia maya yang penuh dengan pembicaraan tentangnya. Bukanlah sulit untuk mencari sumber informasi pada zaman sekarang ini. Saya bahkan bisa merujuk dari mana saja. Awalnya, buku ini menarik perhatian saya saat terjadi kontroversi mengenai buku diet yang ditulis oleh seorang artis yang dikritik sebagai informasi yang menyesatkan. Kasus ini mendorong saya untuk belajar lebih dalam tentang BMR (Basal Metabolic Rate) dan defisit kalori. Salah satu tokoh yang cukup vokal dalam kasus ini adalah Yulia Baltschun, penulis buku ini, yang pada akhirnya menarik minat saya. Meskipun saya awalnya tidak memiliki tujuan menurunkan berat badan, saya ingin memperluas pemahaman saya mengenai dunia diet. Inilah mengapa saya memutuskan untuk membeli buku ini.

Buku ini terbagi menjadi tiga bab utama, yaito “Pikiran,” “Makanan,” dan “Tubuh.” Setiap bab memberikan banyak fakta menarik, wawasan, dan penjelasan yang mendalam. Bahkan, saya merasa begitu terinspirasi hingga akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua buku tambahan setelah membaca ini: “Sell Like Crazy” karya Sabri Suby dan “Menghilangkan Stres dari Otak” karya Arita Hideho. Ini menunjukkan betapa pengalaman membaca buku ini mampu memotivasi saya untuk melanjutkan pembelajaran lebih lanjut.

Buku ini tidak hanya sekedar tentang berapa berat badan yang seharusnya kita miliki atau bentuk tubuh ideal yang dikejar. Yulia Baltschun berhasil menjelaskan dengan singkat dan padat tentang pentingnya merawat tubuh dan pikiran kita. Dia mengajarkan konsep sederhana, yakni mensyukuri pemberian Tuhan dan merawat tubuh kita sebagai bentuk apresiasi terhadap anugerah tersebut. Melalui bacaan ini, saya menyadari bahwa esensi dari menjaga kesehatan tidak hanya untuk tujuan fisik semata.

Buku ini mengingatkan saya pada pengalaman saya saat pertama kali membaca “Bukan Buku Diet” beberapa tahun yang lalu. Meskipun saya sudah mengambil langkah untuk lebih memahami diet, saya merasa belum puas dan kembali tergoda untuk menggali lebih dalam (kapan saya akan berhenti, haha!). Meskipun ada beberapa aspek yang dapat ditingkatkan—terutama karena buku ini diterbitkan secara independen tanpa campur tangan editor seperti pada penerbit besar—saya percaya bahwa pengulangan kalimat yang terjadi saat membaca akan bisa dihindari di cetakan berikutnya.

Selama membaca, saya menemukan beberapa pengulangan kalimat yang mengganggu alur. Selain itu, ada juga beberapa kesalahan ejaan yang perlu diperbaiki. Namun, meskipun demikian, kualitas buku ini tetap luar biasa. Isi buku dilengkapi dengan ilustrasi yang relevan dan gaya penulisan yang sangat menghibur. Rasanya seakan-akan saya sedang berbicara dengan seorang saudara yang memberi nasihat secara pribadi.

Tentu saja, diet bukan hanya tentang mencapai berat badan ideal atau bentuk tubuh yang diinginkan. Diet seharusnya melibatkan pola makan yang teratur dan penuh kesadaran, dengan tujuan untuk mendukung optimalisasi fungsi tubuh. Selain itu, diet juga berdampak pada aspek lain dalam kehidupan kita seperti tingkat stres dan pola tidur.

Saya ingin berterima kasih kepada Yulia Baltschun atas kontribusinya dalam menyajikan pembelajaran berharga ini melalui bukunya. Akhirnya, jika ada yang bertanya tentang jenis diet yang saya jalani, saya ingin menegaskan bahwa yang saya lakukan adalah menciptakan pola makan yang disesuaikan berdasarkan informasi yang saya peroleh dari buku ini. Saya sangat mengapresiasi pendekatan ilustratif dalam buku ini yang membuat informasi lebih mudah dicerna.

Secara keseluruhan, “I Hate Diet” bukan hanya cocok untuk mereka yang ingin menjalani diet, tetapi juga untuk siapa saja yang ingin memahami makna sebenarnya di balik kata “diet.” Buku ini memberikan pandangan yang segar dan pendekatan yang realistis terhadap konsep diet, menjauhkannya dari stereotip yang ada.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published