Duduk Dulu

Judul: Duduk Dulu
Penulis: Syahid Muhammad
Tahun Terbit: Diterbitkan 29 Januari 2021
Genre: Self-Help, Non-fiksi

Sinopsis

“Duduk Dulu” adalah buku yang mengajak pembaca untuk merenung dan menenangkan diri dari berbagai harapan yang menyiksa. Penulis, Syahid Muhammad, membawa kita pada perjalanan mengenali diri sendiri dan menerima segala emosi yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Buku ini menyoroti berbagai masalah jiwa seperti kesedihan, kegelisahan, harapan, luka, amarah, dan kesepian, serta mengajak untuk merangkul dan menerima setiap perasaan tersebut.

Review

“Duduk Dulu” adalah karya yang memikat dan menggugah. Sejak melihat covernya dan membaca kalimat di judul yang mengingatkan kita untuk ‘jangan lupa jadi manusia,’ saya sudah tertarik dan penasaran dengan isi buku ini. Penulis, akrab disapa Bang Iid di media sosial, telah berhasil menyajikan rangkaian kalimat yang memukau di setiap bukunya.

Dengan tajam dan lugas, penulis mengungkap pengalaman pribadi yang mempertanyakan arti menjadi manusia dengan segala perasaan yang kadang sedih, bahagia, mendapatkan masalah, rejeki tak terduga, ketakutan, dan kecemasan. Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya merenung dan mengingat Tuhan dalam menjalani kehidupan yang begitu cepat dan penuh tekanan.

“Duduk Dulu” berfungsi sebagai katalisator untuk refleksi diri. Di dalamnya, penulis memberi semangat untuk belajar, berkembang, dan memperbaiki diri agar kita dapat menerima setiap emosi yang dirasakan, termasuk emosi negatif. Buku ini mengajarkan bahwa tak apa-apa merasa lelah, kecewa, sedih, atau bahkan gagal, karena itu adalah bagian wajar dari hidup manusia.

Buku ini cocok dijadikan teman saat sedang rehat dari hiruk-pikuk masalah sehari-hari. Ia menawarkan kesempatan bagi pembaca untuk merenung, membaca dengan santai tanpa terburu-buru. Saya pribadi merasa terhubung dengan setiap halaman buku ini, terhanyut oleh kata-kata yang begitu bermakna.

Syahid Muhammad, dengan gaya penulisan yang sederhana namun dalam, mengajak kita untuk duduk sejenak, melepaskan beban pikiran, dan berbicara dengan diri sendiri. Buku ini memberi ruang bagi kita untuk memahami diri sendiri, mengenal emosi yang kadang terlupakan, dan menerima bahwa kita bukanlah makhluk sempurna.

“Duduk Dulu” adalah perjalanan mendalam dalam menemukan kembali jati diri yang mungkin sudah terlupakan. Buku ini berhasil menarik perhatian saya dari awal hingga akhir. Saya merasa tergugah oleh setiap kisah dan ungkapan yang dihadirkan penulis. Bahkan, tak jarang air mata mengisi mata saya, menyatu dengan perasaan yang tertuang dalam kata-kata.

Secara keseluruhan, buku ini adalah bacaan yang romantis, menghadirkan penerimaan dan pelukan hangat bagi mereka yang mencari makna hidup. Dengan kisah-kisahnya yang menghujam, “Duduk Dulu” telah berhasil menemukan tempat di hati saya. Ia mengajarkan bahwa melalui ketenangan dan merangkul setiap sisi diri, kita dapat menjadi manusia yang lebih baik dan penuh kedamaian.

Buku ini adalah jenis karya pengembangan diri yang begitu membantu ketika kita membutuhkan dukungan. Lewat lembaran-lembarannya, kita diajak untuk pulang dengan membawa bekal berupa beban pikiran yang harus diletakkan, lalu duduk, dan berteman dengan diri sendiri. Buku ini telah membantu saya menyadari bahwa saya perlu mengenal diri sendiri lebih dalam lagi.

“Duduk Dulu” adalah perjalanan indah menuju pemahaman diri dan keseimbangan emosi. Pesan-pesan dalam buku ini tetap akan terngiang dalam benak saya, membantu menghadapi hidup dengan lebih bijaksana. Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa pun yang ingin menemukan kedamaian dalam kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Terima kasih, Bang Iid, atas karya yang begitu berharga ini.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published