Azzamine

Please wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation.

Judul: Azzamine
Penulis: Sophie Aulia
Tahun Terbit: Diterbitkan 1 Februari 2022
Genre: Percintaan

Sinopsis

“Aku mencintaimu lebih dari yang bisa diungkapkan oleh angka besar, Jasmine, di sepertiga malamku,” kata Raden Azzam Al-Baihaqi yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan Haura Jasmine melalui perjodohan yang diatur oleh orang tua mereka. Jasmine, yang belum siap dengan perjodohan ini, meminta Azzam untuk mundur. Bukan karena tidak menyukai Azzam, tetapi Jasmine merasa dirinya tidak pantas berada di samping pria yang begitu sempurna dalam agamanya.

Namun, semakin Jasmine mencoba menjauh, semakin Azzam membayangi pikirannya. Sementara itu, Jasmine masih menjalani hubungan dengan Deka, pacarnya selama empat tahun terakhir. Azzam atau Deka, itulah pilihan sulit yang harus dihadapi Jasmine.

Review

“Azzamine” karya Sophie Aulia mengisahkan perjalanan cinta antara Raden Azzam Al-Baihaqi (Azzam) dan Haura Jasmine (Jasmine) yang dimulai dari sebuah perjodohan yang tak terduga. Azzam tiba-tiba datang ke dalam kehidupan Jasmine, dan reaksi pertama Jasmine adalah meminta Azzam untuk mundur dari perjodohan ini. Bukan karena dia tidak menyukai Azzam, tetapi karena dia merasa tidak pantas untuk berada di samping pria yang begitu sempurna dalam agamanya.

Dalam novel ini, tergambar perjuangan Azzam yang ingin merebut hati Jasmine. Azzam tidak menyerah dan terus berusaha meluluhkan hati Jasmine dengan sikapnya yang religius, lembut, dan penuh perhatian. Jasmine sebenarnya masih berpacaran dengan Deka, pacarnya selama empat tahun terakhir, dan itu membuatnya semakin sulit bagi Jasmine untuk menerima perasaannya terhadap Azzam.

Tentu saja, kisah cinta segitiga antara Azzam, Jasmine, dan Deka menimbulkan banyak konflik dan drama dalam cerita. Jasmine harus berjuang melawan perasaannya sendiri, perasaannya terhadap Deka, serta tekanan dari keluarga dan lingkungan sekitar yang mendukung perjodohan antara Azzam dan Jasmine.

Salah satu nilai positif yang bisa diambil dari novel ini adalah pengenalan unsur religi yang kuat dalam cerita. Azzam digambarkan sebagai pria yang sangat taat pada agamanya, sedangkan Jasmine memiliki konflik batin karena merasa belum cukup baik secara religius untuk bersanding dengan Azzam. Hal ini memberikan dimensi moral dan spiritual yang menarik dalam cerita, di mana kedua karakter utama berusaha untuk menemukan keselarasan antara cinta dan agama.

Namun, di sisi lain, ada juga banyak kritik terhadap novel ini. Beberapa pembaca merasa bahwa proses taaruf yang digambarkan dalam cerita tidak sesuai dengan ajaran agama dan terlalu romantisasi. Penggambaran karakter Azzam sebagai pria sempurna yang hampir tidak memiliki cela juga menuai kritik karena terasa tidak realistis. Selain itu, beberapa bagian penting dari cerita dipotong atau kurang dijelaskan, membuat beberapa adegan terasa kurang beralasan.

Sementara banyak pembaca yang menginginkan “Azzamine” memiliki season kedua, ada juga yang merasa bahwa novel ini tidak sebanding dengan hype-nya di media sosial. Isu klaim wajah idola yang digunakan dalam cerita juga menimbulkan kontroversi di kalangan pembaca.

Meskipun ada beberapa kekurangan, cerita ini tetap berhasil menarik perhatian pembaca dengan gaya penulisan yang ringan dan romantis. Ada juga sentuhan humor yang membuat cerita terasa lebih hidup. Karakter Azzam, walaupun kontroversial, berhasil menjadi daya tarik utama novel ini karena kesempurnaannya yang mencuri hati banyak pembaca.

Dalam cerita ini, Sophie Aulia berhasil menciptakan narasi yang menggugah emosi dan membuat pembaca terhanyut dalam kisah cinta yang rumit. Walaupun beberapa aspek cerita dapat dipertanyakan dari sudut pandang religiusitas, tidak dapat disangkal bahwa “Azzamine” adalah novel yang menarik untuk dinikmati sebagai kisah cinta yang ringan dan menghibur.

Plot novel ini dikemas dengan baik, meskipun terdapat beberapa peristiwa yang mungkin terasa terlalu cepat atau terlalu lambat bagi beberapa pembaca. Namun, secara keseluruhan, plotnya mampu menahan perhatian pembaca dan menghadirkan banyak momen mendebarkan serta mengharukan.

Dalam aspek karakter, terutama karakter utama, Sophie Aulia berhasil menciptakan karakter yang kuat dan kompleks. Azzam digambarkan sebagai pria yang sangat taat pada agamanya dan memiliki sifat lembut, penyayang, dan penuh perhatian. Azzam sebagai karakter utama pria yang saleh dan sabar mencuri perhatian banyak pembaca wanita. Namun, hal ini juga menimbulkan perdebatan tentang realisme karakter Azzam, karena terkadang dianggap terlalu idealis.

Di sisi lain, Jasmine digambarkan sebagai gadis yang ceria, tetapi juga memiliki sisi kebingungannya dalam mencari identitas diri dan merasa belum pantas mendampingi Azzam. Jasmine adalah karakter yang kompleks karena ia berada di tengah-tengah antara cinta pada Azzam dan Deka, serta mencari kebahagiaan dan pemahaman tentang dirinya sendiri.

Karakter Deka, pacar Jasmine, juga memberikan dimensi yang menarik dalam cerita ini. Meskipun dalam beberapa sisi dia digambarkan sebagai pria yang setia dan penyayang, tetapi juga terlihat lemah dalam menghadapi situasi yang sulit. Karakter Deka memberikan konflik dan memperkuat dinamika hubungan segitiga dalam cerita.

Penggambaran karakter-karakter pendukung dalam novel ini juga cukup baik, meskipun beberapa dari mereka mungkin terasa sedikit klise dan kurang mendalam dalam perkembangan karakternya. Tetapi, kehadiran karakter-karakter pendukung ini memberikan warna dan latar belakang yang beragam dalam cerita.

Selain itu, atmosfer dan setting cerita juga berhasil menghidupkan dunia yang diciptakan oleh Sophie Aulia. Penggambaran pesantren dan kehidupan sehari-hari di dalamnya memberikan nuansa khas yang menghidupkan suasana cerita. Penulis dengan baik menggambarkan suasana pesantren dengan detail yang membawa pembaca merasakan kehidupan di lingkungan pesantren.

Gaya penulisan Sophie Aulia juga layak diacungi jempol. Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami, sehingga membuat cerita mudah diikuti oleh pembaca. Deskripsi dan dialog yang terdapat dalam novel ini juga mampu menghidupkan suasana dan memperkuat penggambaran karakter serta setting.

Namun, ada beberapa aspek yang dapat ditingkatkan dalam novel ini. Salah satunya adalah penjelasan yang lebih mendalam mengenai proses taaruf dan pandangan agama terkait perjodohan. Beberapa pembaca merasa bahwa proses taaruf yang digambarkan terlalu singkat dan tidak memberikan pemahaman yang cukup dalam mengenai proses tersebut.

Selain itu, karakter Azzam yang digambarkan begitu sempurna juga menimbulkan polemik di kalangan pembaca. Beberapa pembaca merasa karakternya terlalu idealis dan kurang realistis, sehingga membuatnya kurang bisa terhubung dengan pembaca yang memiliki pengalaman cinta yang lebih kompleks.

Dalam hal pacing, ada bagian cerita yang mungkin terasa lambat dan kurang berkontribusi pada perkembangan alur cerita. Beberapa adegan juga terasa kurang diperlukan dan dapat dipotong tanpa mengurangi makna cerita secara keseluruhan.

Kesimpulannya, “Azzamine” karya Sophie Aulia adalah novel percintaan yang menarik dan menghadirkan perjuangan cinta segitiga yang penuh konflik. Meskipun ada beberapa kritik terhadap beberapa aspek cerita, tidak dapat dipungkiri bahwa novel ini berhasil menyajikan pesan tentang cinta dan religi dengan cara yang menarik dan menyentuh hati pembaca. Gaya penulisan yang ringan dan mengalir dengan baik membuat cerita mudah diikuti, dan penggambaran karakter yang kompleks menghidupkan dunia cerita dengan baik. Walaupun terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, “Azzamine” tetap merupakan novel yang layak untuk dinikmati oleh penggemar genre percintaan dan pecinta kisah-kisah romantis yang ringan.

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published